Cipondoh: Ketika Air Memilih Tinggal, Manusia Belajar Mengingat
By Admin
Foto Udara Situ Cipondoh
nusakini.com, Di sebuah pagi yang belum sepenuhnya terjaga, air Situ Cipondoh memantulkan langit seperti ingatan yang tak pernah benar-benar hilang. Permukaannya tenang, tetapi di dalamnya tersimpan perjalanan panjang tentang manusia, lidah, dan cara sebuah tempat diberi nama.
Di tepian situ itu, orang-orang dulu tidak membutuhkan peta untuk tahu di mana mereka berada. Mereka cukup mendengar bagaimana air bergerak—atau justru diam. Air yang menggenang, yang tak pergi ke mana-mana, yang memilih tinggal. Mereka menyebutnya sederhana saja: cai mondok.
Air yang mondok.
Barangkali dari situlah semua bermula. Bukan dari keputusan pejabat, bukan dari rapat panjang yang penuh istilah administratif, melainkan dari pengamatan paling jujur seorang manusia kecil terhadap alam di sekitarnya. Air yang menetap, air yang seperti enggan meninggalkan tanah ini, lalu pelan-pelan mengundang manusia untuk ikut tinggal.
Dan manusia memang datang.
Mereka membuka jalan setapak, mendirikan rumah dari apa yang ada, menanam harapan di tanah yang kadang basah, kadang keras. Air yang diam itu tidak pernah sekadar air. Ia menjadi cermin, menjadi sumber kehidupan, sekaligus batas yang mengajarkan kerendahan hati: bahwa tidak semua bisa dikuasai, ada yang hanya bisa dihormati.
Waktu berjalan seperti arus yang tak tampak. Lidah pun berubah. Cai mondok yang semula diucap dalam napas Sunda, beralih perlahan di bibir Betawi. Bunyinya menyesuaikan, melunak, mengalir mengikuti kebiasaan sehari-hari: Cipondoh.
Nama itu bertahan. Ia melekat seperti akar yang tak terlihat, tetapi menyangga segalanya.
Hari ini, Cipondoh tak lagi sekadar kampung luas dengan satu situ yang menjadi pusat kehidupan. Jalan-jalan beraspal membelah wilayah yang dulu hanya dikenal lewat jejak kaki. Kelurahan tumbuh, terbagi, dan diberi nama baru: Cipondoh, Cipondoh Indah, Cipondoh Makmur. Kata “indah” dan “makmur” terdengar seperti doa yang diucapkan keras-keras agar menjadi kenyataan.
Namun, di balik derap pembangunan itu, ada sesuatu yang tetap tinggal—seperti air yang dahulu mondok.
Ingatan.
Ia berdiam di kepala orang-orang tua yang masih ingat ketika situ lebih luas dari yang kini tersisa. Ia bersemayam di cerita yang dituturkan pelan kepada anak-anak yang mungkin tak lagi mengenal bau lumpur atau dinginnya air pagi. Ia juga hidup diam-diam dalam nama yang setiap hari disebut, tanpa banyak orang menyadari maknanya.
Cipondoh bukan hanya soal geografi. Ia adalah cara manusia memberi arti pada ruang, cara mereka berdamai dengan alam, dan cara mereka mengingat asal-usul di tengah perubahan yang sering kali terlalu cepat.
Ada ironi yang lembut di sana. Ketika sebuah tempat tumbuh menjadi pusat ekonomi, ketika bangunan berdiri lebih tinggi dari pohon-pohon lama, justru yang paling rapuh adalah ingatan tentang bagaimana semuanya bermula. Seolah-olah modernitas diam-diam meminta kita untuk lupa.
Padahal, tanpa ingatan itu, Cipondoh hanya akan menjadi titik di peta—tanpa jiwa, tanpa cerita, tanpa manusia.
Mungkin, jika kita berdiri lebih lama di tepi situ, membiarkan angin menyentuh wajah dan air memantulkan bayangan kita, kita akan mengerti sesuatu yang sederhana: bahwa tempat ini tidak pernah benar-benar berubah. Yang berubah hanya cara kita melihatnya.
Air itu masih mondok.
Ia masih tinggal.
Dan dalam diamnya, ia seperti berbisik kepada siapa saja yang mau mendengar: bahwa setiap kemajuan seharusnya tidak menghapus asal-usul, melainkan merawatnya—agar manusia tidak kehilangan dirinya sendiri di tanah yang pernah mereka sebut rumah. (*)